Pantun Bale

Oleh: Pak D Susanto


Saya kutip broadcast Pak Cip, admin #SelasaBerbagi grup bloger guru nasional, Lagerunal.


Setelah sekian lama, akhirnya kegiatan Selasa muncul kembali. Ya, dengan format yang baru. Setiap Selasa, akan ada “Pantun Bale” (Pantau Tulisan Sobat Lagerunal). Setiap Selasa, akan ada 1 tulisan yang akan kita pantau, lihat, lalu diulas. Di dalamnya adalah menguraikan “kekuatan dan kelemahan sekaligus memberikan saran”, silahkan diabadikan di blog masing-masing. Link “Pantun Bale” dicantumkan di grup seperti #BlogWalking hari Senin.

Dalam hati, jangan-jangan ada yang mengira ada tantangan bikin pantun. Ternyata, iya!
Gambar tangkap layar grup WA Lagerunal

Bung Cip, tuh kan. Kalau tidak teliti bisa bikin salah paham. Ha ha ha …!


Rasional Pantun Bale

Dalam tulisannya, Bung Cip menyebutkan bahwa dia dan banyak penulis pada komunitas Lagerunal, besar dalam pendidikan zaman Orde Baru yang bersifat “satu versi”. Seringkali terasa alergi jika “dikritik”.

Setelah menuliskan kalimat terakhir di atas, buru-buru Bung Cip menulis: “Semoga salah ya, he he he he ….”

Program Pantun Bale (Pantau Tulisan Sobat Lagerunal) mencoba untuk membiasakan kita meninggalkan sifat itu (sifat antikritik) dan mudah-mudahan dapat menajamkan tulisan ke arah yang semakin baik. Bagus juga ya, rasional diluncurkannya Pantun Bale ini?
Tulisan Pertama Pantun Bale

Kadang sungkan juga, merasa tidak enak hati. Terasa jengah memantau tulisan teman. Sebab, tulisan sendiri belum layak dan tentu saja jauh dari pantas untuk dipuji.

Untuk mengatasi perasaan itu, saya mencoba memasang niat bukan untuk mengupas kekurangan atau mencari-cari kesalahan. Namun, saya memasang niat sebagaimana sang penggagas sudah mengutarakan.

Tulisan yang bernasib baik menjadi bahan pantauan kali ini adalah tulisan Ibu Kamila, S.Pd.I. yang dalam kontak tertulis nama Kamila Hasyim. Beliau seorang kepala Madrasah Ibtidaiyah, lembaga setara sekolah dasar di bawah naungan Kementerian Agama.

Tulisan ibu guru hebat ini berjudul Simulasi AKM dengan subjudul Siswa MI DDI Lipu Melakukan Simulasi AKM.

Tulisan tersebut saya pantau dan kutip seutuhnya pada hari Selasa, 19 Oktober 2021 pukul 20.20. Hal ini perlu saya kemukakan karena saya menyadari, blog adalah publikasi yang sangat privat. Si pemilik memiliki hak sepenuhnya mengubah tampilan atau tulisan. Sangat janggal jika komentar saya sudah tidak sesuai karena tulisan sudah diperbaiki dan diperbarui publikasinya.


5W1H

Tulisan Ibu Kamila, S.Pd.I, tergolong singkat. Jika saya sorot dari pangkal judul hingga akhir tulisan (titimangsa/tanggal) hanya terdiri dari 291 kata. Saya meminta bantuan id.wordcounter360 untuk menghitungnya.

Mari kita tinjau unsur 5W1H pada tulisan tersebut. Dalam bahasa Indonesia 5W1H dikenal dengan sebutan “Adiksimba”. Sebutan Adiksimba diambil dari singkatan unsur 5W1H, yakni apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana.

Apa yang diceritakan oleh penulis? Jelas tentang simulasi AKM. Sebagaimana kita tahu, mulai hari Senin tanggal 18 Oktober 2021 serentak dilaksanakan simulasi AKM jenjang sekolah dasar sederajat.

Di mana peristiwa itu berlangsung? Simulasi AKM yang diceritakan berlangsung di MI DDI Lipu bertempat di ruang guru. Tertulis pada paragraf ketiga. “Dalam pelaksanaan simulasi AKM kemarin, Tanggal 18 Oktober 2021 di tempat kan di ruangan guru, Karna Madrasah kami memang tidak memiliki ruangan lap Komputer.“

Sayangnya, tidak dijelaskan apa kepanjangan dari DDI. Juga Lipu itu kota di kabuapten dan provinsi apa.

Mari kita lanjutkan pertanyaannya. Kapan peristiwa itu terjadi? Simulasi AKM yang diceritakan berlangsung pada hari Senin, 18 Oktober 2021.

Siapa yang terlibat? Simulasi AKM melibatkan siswa dan guru MI DDI Lipu yang membantu memfasilitasi.

Mengapa MI DDI Lipu melaksanakan simulasi AKM? Secara eksplisit penulis tidak mengemukakan. Namun pembaca yang mengikuti dinamika pendidikan mengetahui bahwa tanggal 18 Oktober 2021 adalah pelaksanaan simulasi AKM yang digagas oleh pemerintah.

Bagaimana pelaksanaan simulasi AKM di MI DDI Lipu? Penulis menceritakan dengan gamblang bahwa pihak MI sebelumnya sudah mempersiapkan.

Paragraf pertama memuat penjelasan tentang itu. “Persiapan untuk simulasi seperti Laptop dan perangkat lainnya juga sudah di persiapkan dengan baik oleh proktor dan teknisi.”

Penulis selaku kepala madrasah tidak bisa memantau secara langsung karena masih berada di Provinsi Maluku Utara menghadiri STQ Tingkat Nasional di Sofifi. Akan tetapi ada satu guru yang bertanggung jawab.

Paragraf keempat menceritakan kendala yang dihadapi pada pelaksanaan simulasi AKM tersebut.
Analisis Kebahasaan

Analisis kebahasaan yang saya kemukakan terbatas pada unsur kalimat dan penerapan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Yang pertama, kalimat. Unsur kalimat yang kasat mata adalah penggunaan huruf kapital pada awal kalimat dan diakhiri dengan tanda titik (selain kalimat seru/perintah dan kalimat tanya). Maka saya mengatakan, selagi belum diakhiri dengan tanda titik masih dianggap satu kalimat. Perkara efektif atau tidak, itu persoalan lain.

Contoh kalimat pada paragraf pertama.


Tanggal 18 Oktober 2021 kemarin, semua siswa Kelas V yang jadwal shif shifannya hari Senin Alhamdulillah bisa ikut melaksanakan simulasi AKM, Persiapan untuk simulasi seperti Laptop dan perangkat lainnya juga sudah di persiapkan dengan baik oleh proktor dan teknisi. karena Laptop di Madrasah kami tidak mencukupi, Jadi guru guru MI DDI lipu harus meminjamkannya kepada siswa.

Dilihat dari tanda titik yang dipakai, paragraf pertama hanya terdiri dari dua kalimat. Kalimat pertama diawali kata “Tanggal” diakhiri dengan kata teknisi. Kalimat kedua dimuai dengan kata “karena” dan diakahiri dengan kata “siswa”.

Pada bahasa lisan, frasa “yang jadwal shif shifannya hari Senin” lumrah diucapkan. Namun, pada bahasa tulisan perlu diperhatikan kebakuan kata yang digunakan. Bahasa Indonesia belum mengenal atau belum memberikan penjelasan tentang makna “shif shifan”. Jadi, saran untuk penulis, kata tersebut dihilangkan saja.

Ungkapan untuk menyatakan rasa syukur yang diserap dari bahasa Arab, alhamdulillah, sudah menjadi kata baku bahasa kita. Oleh karena itu aturan kebahasaan pun melekat pada kata tersebut, misalnya tentang penggunaan huruf kapital pada awal kata “alhamdulillah” tersebut.

Kata “karena” adalah kata penghubung untuk menandai sebab atau alasan. Kata tersebut dapat digunakan sebagai awal kalimat jika frasa yang mengandung kata tersebut merupakan keterangan alasan atau sebab terjadinya hal yang dikemukakan pada frasa berikutnya. Maka, akan terasa janggal jika frasa tersebut diikuti oleh kata “jadi” sebagai penanda penegasan tentang sesuatu yang sudah dibicarakan.

Saran perbaikan (lebih tepatnya, jika saya yang mempunyai kalimat) adalah sebagai berikut.


Tanggal 18 Oktober 2021 kemarin, semua siswa Kelas V, alhamdulillah, bisa ikut melaksanakan simulasi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum). Peralatan untuk simulasi seperti laptop dan perangkat lainnya sudah di persiapkan dengan baik oleh proktor dan teknisi. Karena laptop di madrasah kami tidak mencukupi, guru-guru MI DDI Lipu harus meminjamkan laptopnya kepada siswa.

Yang kedua, penerapan PUEBI. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia memuat: pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan.

Saya menemukan misalnya kata-kata: di tempat kan, di ruangan, Karna Madrasah, lap Komputer, “Madrasah Lainnya, Tapi”, dan Madrasah Kami. Nukilan ini berasal dari paragraf ketiga.

Penggunaan kata “di” dan “kan” sebagai imbuhan, penggunaan huruf kapital pada kata-kata tertentu di tengah kalimat, kata “lap” dengan “lab” sebagai kependekan laboratorium, tentu tentu harus diperhatikan.
Kesimpulan

Tulisan reportase karya bu Kamila berjudul Simulasi AKM, sangat bagus. Saya salut, tulisan pendek namun unsur “Adiksimba” terangkum semua.

Kelemahan pada unsur kebahasaan, saya kira hanya masalah kebiasaan dan kemauan untuk mencermati aturan kebahasaan yang mestinya dipenuhi dalam tulisan.

Uf, panjang juga. Lebih dari 1100 kata saya ketikkan dalam tulisan “Pantun Bale” ini. Bu Kamila, Anda hebat. Bung Cip, Anda sangat kreatif.

Musi Rawas, 19 Oktober 2021

PakDSus

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama